Dalam pergaulan sehari hari, kita secara fitrahwi lebih senang di dengar dari pada mendengarkan dan lebih cenderung untuk banyak berbicara daripada mendengarkan. Dalam dunia pendidikan juga demikian, peserta didik cenderung untuk lebih banyak di dengarkan dari pada mendengarkan. Karena kekurang pemahaman kita sebagai guru, sehingga kadang kita mengabaikan hal seperti ini. Kita juga cenderung menjadi manusia yang egois, yang hanya ingin di dengar tapi tidak ingin mendengarkan sehingga muncullah istilah "Ah, susah sekali disampaikan, anaknya tidak mau mendengar/menurut." Padahal kita sebagai guru seharusnya lebih banyak memposisikan diri sebagai pendengar buat peserta didik bukan sebagai penceramah. Pada dasarnya, peserta didik hanya ingin didengarkan baik itu keluh kesah mereka, alasan mereka tidak mau menurut atau tidak termotivasi belajar, dsb. Pernahkah kita meluangkan waktu kita sejenak untuk mendengarkan apa yang menjadi uneg uneg mereka?, apa yan...